GIANYAR – Rangkaian hujan deras, banjir, dan longsor yang kembali melanda Bali dalam beberapa waktu terakhir menjadi pengingat keras akan rapuhnya hubungan manusia dengan alam. Berangkat dari kenyataan tersebut, Puja Tirtha Buana: Mesaba Festival 2025 digelar sebagai jalan kebudayaan untuk merawat bumi dan memulihkan kesadaran kolektif akan air sebagai sumber kehidupan.
Festival yang berlangsung pada 16–17 Desember 2025 di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan ini mengusung tema “Memuliakan Air, Menanam Jejak Peradaban”. Puja Tirtha Buana merupakan simpul akhir dari program Revitalisasi Sistem Pengetahuan Subak yang dilaksanakan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XV.
“Melalui pendekatan seni dan budaya, kegiatan ini menggabungkan interpretasi ulang sejarah Bali Kuna dengan realitas subak masa kini, sekaligus menegaskan subak sebagai sistem pengetahuan yang hidup dan relevan lintas zaman,” ujar Kepala BPK Wilayah XV, Kuswanto,S.S., M.Hum.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa subak tidak sekadar dipahami sebagai sistem irigasi atau bentang sawah, melainkan sebagai tata kelola air yang menyatu dengan struktur kelembagaan, aturan adat, serta ritual keagamaan.
Selama lebih dari satu milenium, subak telah membuktikan ketangguhannya menghadapi perubahan zaman, dari era Dinasti Warmadewa, masa kolonial, hingga tekanan Revolusi Hijau pada 1970-an. Dari subak, masyarakat Bali belajar tentang keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan pangan dan keberlanjutan alam.
Nunas Tirtha: Penyucian Benih dan Jiwa
Rangkaian acara Puja Tirtha Buana diawali dengan prosesi Nunas Tirtha, Penyucian Benih dan Jiwa, yang dilaksanakan secara paralel pada 16 Desember 2025 di Pura Bukit Durga Kutri dan Candi Tebing Gunung Kawi. Pemilihan dua situs suci ini berkaitan erat dengan sejarah Bali Kuna dan perjalanan subak, khususnya pada masa pemerintahan Raja Anak Wungsu.
Prasasti Pandak Badung bertahun 1071 M mencatat istilah kasuwakan, menandakan bahwa praktik subak telah berlangsung jauh sebelum prasasti tersebut dituliskan. Raja Anak Wungsu dikenal sebagai sosok yang sangat menghormati kedua orang tuanya, Sri Udayana dan Gunapriya Dharmapatni, yang didharmakan di dua lokasi tersebut.
“Nilai penghormatan inilah yang direfleksikan dalam prosesi Nunas Tirtha sebagai bentuk penyucian benih, air, dan jiwa sebelum melangkah ke tahapan berikutnya,” ucap Kuswanto.
Usai prosesi, seluruh sarana upacara, tirtha, dan benih pohon diinapkan semalam di Pura Mengening, sebelum keesokan harinya diarak menuju Pura Belahan Alas Arum.
Menanam Jejak Peradaban Masa Depan
Puncak rangkaian Puja Tirtha Buana adalah prosesi Menanam Jejak Peradaban Masa Depan di mata air Yeh Cenik, Pura Belahan Alas Arum. Dalam prosesi ini, dua jenis pohon ditanam, yakni Taru Menyan dan Sukun.
Pohon Taru Menyan dipilih berdasarkan praktik budaya masyarakat Trunyan, di mana pohon ini berfungsi menyerap bau dan dimaknai sebagai simbol kesucian serta keharmonisan alam.
Sementara itu, pohon sukun memiliki nilai penting bagi ketahanan pangan dan lingkungan. Dengan akar yang kuat dan kemampuan menyerap air, sukun berperan mencegah banjir dan longsor, sekaligus menjadi sumber pangan bergizi bagi generasi mendatang.
Prosesi diawali iring-iringan dari Pura Mengening menuju Pura Belahan Alas Arum, dengan penampilan simbolik dua penari yang merepresentasikan Udayana dan Gunapriya Dharmapatni. Setibanya di lokasi, rombongan disambut tarian Baris Dadap dan menjalani ritual pradaksina sebelum penanaman pohon dipimpin oleh jero mangku setempat.
“Acara ini jmenampilkan hasil rekonstruksi tarian Baris Dadap yang merupakan simbol dari keselarasan dalam menjaga alam, bersama seorang maestro Baris Dadap yang kini telah berusia lebih dari 80 tahun, I Wayan Bronat,” imbuh Kuswanto.
Mesaba Festival : Karya Subak untuk Buana
Mesaba Festival 2025 juga menghadirkan program Karya Subak untuk Buana, sebagai diseminasi hasil revitalisasi subak di Lanskap DAS Pakerisan. Kegiatan ini meliputi pameran seni, pertunjukan budaya, bazar produk subak, hingga peluncuran platform digital metadata dokumentasi subak berbasis web.
Kolaborasi antara seniman profesional, pelaku seni lokal, dan masyarakat subak diharapkan dapat mendorong partisipasi aktif dalam pelestarian warisan budaya dunia tersebut.
Festival ditutup dengan Dialog Dini Hari, menampilkan karya musik yang secara khusus diciptakan untuk Puja Tirtha Buana, sebagai pesan reflektif tentang alam, budaya, dan keberlanjutan peradaban subak di masa depan. (red)